Skip navigation

Radio Komunitas; Wujud Demokrasi Masyarakat.

Peran-fungsi radio komunitas terhadap eksistensi komunitas dengan berpolakan, dari komunitas, oleh komunitas, dan untuk komunitas.

Apakah benar radio komunitas (Rakom) itu bisa mewujudkan demokrasi pada masyarakat? Mungkin kita bisa sejenak menengok pada sejarah Bung Tomo; (Pahlawan Nasional) asal Surabaya, melaui jalur on air radio komunitas yang pada waktu itu masih dijuluki dengan radio “Pemberontak“. beliau sanggup memberi dorongan semangat kepada pejuang-pejuang lainnya.“………Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja siaplah, keadaan genting tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak, baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itoe. Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka. Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjoer leboer dari pada tidak merdeka. Sembojan kita tetap,: MERDEKA ataoe MATI“, begitulah kumandang Bung Tomo pada salah satu radio komunitas. Bisa disimpulkan bahwa radio komunitas (rakom) pada saat itu mempunyai peranan yang sangat penting dalam meraih kemerdekaan surabaya dalam melawan penjajahan belanda. Akan tetapi pada masa transisi seperti ini mampukah radio komunitas untuk dapat tetap eksis dalam peran fungsinya sebagai promotor perubahan multidimensi masyarakat (sosial, ekonomi, politik). Pada subtansinya radio komunitas (Rakom) tercipta dari komunitas, oleh komunitas, dan untuk komunitas, yang berbentuk media-media kecil, yang tumbuh dari kelompok-kelompok kecil masyarakat, komunitas tertentu, ataupun kelompok minoritas, dan isinya mempunyai concern terhadap eksistensi kelompok kecil tersebut, sebagai contoh ialah media milik kelompok tani, koperasi masyarakat, mahasiswa, ataupun juga kelompok minoritas yang lemah. Radio komunitas (rakom) merupakan salah satu media informasi dan komunikasi yang mempunyai peran penting dalam penyebaran informasi yang seimbang dan setimpal yang ada dalam suatu komunitas masyarakat, yang memiliki  kebebasan dan tanggung jawab dalam menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol, dan perekat sosial.

Dalam Undang-Undang no. 32 tahun 2002, Pasal 13 ayat 1 dan 2 menjelaskan dengan tegas terkait keberadaan media komunitas, juga telah diakomodir dengan dijaminnya keberadaan Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK), hal tersebut tercantum dalam PP no. 51 tahun 2005, pasal 1 ayat 2, menjelaskan, “Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK) adalah lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya“. Pasalnya, PP mengenai keberlangsungan radio komunitas (Rakom) secara implisit belum memihak pada keberadaan radio komunitas itu sendiri. Porporsi kanal yang telah ditetapkan oleh pemerintah yakni pada kanal 107.7 Mhz, 107.8 Mhz, 107.9 Mhz, dengan daya pancar 50 Watt, jarak tempuh 2,5 Km, merupakan bentuk kebijakan yang dianggap masih mendiskriminasi keberadaan radio komunitas atas radio komersil, tak ayal jika peran fungsi radio komunitas secara signifikan belum optimal dalam menyuarakan kepentingan-kepentingan yang ada pada komunitas. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Fatkhur, salah satu penyiar radio komunitas (Rakom)“Sahara FM“ di Kecamatan Pesanggaran. Mengatakan, bahwa ditempat radionya tersebut sempat menggunakan frekwensi dipoint 107.8 Mhz, akan tetapi pada frekwensi tersebut saling tindih antara frekwensi radio satu dengan yang lainnya, sehingga suara radionya tidak dapat di dengar dengan jelas. akibat dari itu dia (fatkhur, red) terpaksa menggunakan jalur frekwensi 93.5 MHz supaya radionya tersebut bisa dengan mudah dinikmati dan dapat didengar dengan jelas oleh masyarakat sekitar“saya sudah pernah mencoba pada frekwensi 107.8 Mhz, akan tetapi di frekwensi tersebut suara radionya tidak dapat terdengar dengan jelas karena berbenturan dengan radio lainnya sehingga terpaksa saya ganti pada frekwensi 93.5 MHz dan daya jangkaunya sekitar 14 Km“ Ungkapnya. Pada Partisipasi.

Berdirinya Radio “Sahara FM“ sendiri, bermula dari sebuah komunitas pecinta musik (band,red) oleh kaula muda yang ada diwilayah Pesanggaran, tetapi keberadaan komunitas tersebut dinilai kurang ramah terhadap lingkungan sekitar. Masyarakat sekitar menilai komunitas kaula muda tersebut  identik dengan hura-hura dan sebagai ajang hiburan, sehingga meresahkan kenyamanan mereka (warga, red). Akan tetapi, tidak semua masyarakat lingkungan beranggapan begitu, ialah bapak Riyanto, sosok pria ramah ini malah merasa kasihan dengan keberadaan para kaula muda tersebut, sehingga, dia (Riyanto, red) mempunyai inisiasi untuk meng-akomodir kegiatan kaula muda tersebut menjadi media pendidikan bersama (ada manfaatnya). Keinginan untuk meng-akomodir kegiatan kaula muda tersebut dia (Riayanto,red) merealisasikan dengan diberiakannya sebuah ruangan yang letaknya berdempetan dengan rumahnya, Desa Pesanggaran. Disitu didirikannya sebuah ruang studio radio, komplit dengan peralatanya.“saya sangat kasihan sekali melihat keadaan mereka (komunitas band, red) yang selalu diidentikkan dengan hal-hal yang tidak baik, justru mereka harus diberi sebuah wadah tersendiri untuk dapat mengembangkan potensi-potensi yang mereka punyai, salah satunya memberi ruangan khusus bagi mereka, sehingga kegiatan mereka dapat ter-akomodasi dengan baik“ ujar Didik, salah seorang pendamping radio Sahara FM“. Sekarang ini para pecinta musik tersebut sudah dapat secara lansung mengembangkan kreasinya melalui jalur on air lewat radio. Disamping itu, radio komunitas Sahara FM juga memberikan informasi-informasi terkait program Pemerintahan Desa maupun Pemerintahan Daerah.

Beda halnya dengan Sahara FM, Radio komunitas (Rakom) “Suara Rimba FM“ yang sejak awal kali berdirinya sudah menduduki kanal 107.9 Mhz. Radio komunitas ini sudah 4 tahun mengudara, terhitung sejak pertengahan bulan Desember 2005 yang lalu. Kedudukan studio radio ini bisa dikatakan cukup strategis, karena berada satu atap dengan kantor Pemerintah Desa setempat, yakni di Balai Desa Grajagan. Radio yang dilatar belakangi untuk kepentingan petani desa hutan dan para nelayan ini mempunyai visi Memperkokoh kesatuan, peningkatan kualitas, pemberdayaan , partisipasi dan meningkakan kesadaran kritis komunitas dalam pengelolaan sumberdaya hutan dan pembangunan desa. Untuk mencapai hal tersebut radio komunitas Suara Rimba FM melaksanakan program siarannya yang arah dan kaitannya terhadap program kemasyarakatan, kesejehteraan petani dan nelayan, yang juga menghormati atas keberagaman, dan kemajemukan (prulalism) masyarakat sekitarnya. “ radio Suara Rimba dalam melaksanakan program siarnya sudah mencapai lima puluh persen terkait progam informasi masyarakat, diantaranya memuat berita-berita yang menyangkut keberlangsungan Masyarakat Desa Hutan (MDH)“ ujar Simon salah satu penyiar radio, sekaligus mengakhiri perbincangannya dengan Partisipasi.

Meskipun latar belakang kedua radio tersebut berbeda, akan tetapi semangat untuk menjadi promotor perubahan dan pemberdayaan masyarakat, untuk selalu turut berperan demi terwujudnya masyarakat yang berdaya dan berkembang melalui kebebasan berinformasi, berkomunikasi dan menyatakan pendapat. Dengan demikian keduanya sudah mampu berpartisipasi dalam proses meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan sosialnya. (sihin)

–         foto aktifitas siar di studio radio komunitas sahara FM.

–         Foto penyiar Radio Komunitas Suara Rimba FM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: