Skip navigation

Gunung Tumpang Pitu; Diantara Berkah Dan Musibah

Warga Pesanggaran-Banyuwangi; merasa dikaruniai harta yang berlimpah, tetapi disisilain mereka juga merasa terancam atas kenyamanan kehidupannya, terkait eksplorasi perusahaan tambangan emas di Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu (HLGTP).

Desakan moral maupun politik terus saja menghantui warga masyarakat wilayah penambangan emas di hutan lindung gunung tumpang pitu (HLGTP), Usaha untuk terus melakukan penolakan penambangan emas yang lokasinya tepat di pucuk gunung tumpang pitu; warga masyarakat Pesanggaran merasa ter-intimidasi dan dipermainkan oleh kebijakan-kebijakan yang dianggapnya belum sepihak. Berawal dari kebijakan  yang berbau politik  yang cenderung memihak pada kapitalis (pengusaha), sehingga akhirnya menyulut pada sebuah desakan moral yang mengancam atas kenyamanan dan ketentraman bagi kehidupan masyarakat kecil (marginalis), desakan tersebut secara tidak langsung akan menpengaruhi sikologis yang dapat mewujudkan ketidak seimbangan kondisi sosial masyarakat. Atas kondisi tersebut, mengajak masyarakat Pesanggaran untuk melaksanakan dialog bersama/ bulan Februari (25/2009) yang lalu. Acara yang berlangsung selama satu hari tersebut secara langsung dihadiri oleh Nursyahbani Katjasungkana, S.H. (Komisi III DPR-RI), bertempat di Balai Desa Pesanggaran (Pukul 10.30 wib) dan berlanjut di Balai Dusun Pancer. Dalam proses dialog tersebut, banyak warga Pesanggaran mengeluh akan kondisi sosial-ekonomi mereka. Akibat dari kondisi sosial yang tidak setabil tersebut (terancam kenyamanannya,red), sehingga memaksa warga setempat untuk mengeluarkan Uneg-uneg (permasalahan yang belum tersampaikan,red) yang selama ini masih mereka pendam, Ialah Mbah Ngadeni, pada waktu itu yang pertama kali menyempatkan diri untuk memaparkan keluh kesahnya terkait keberadaan perusahaan swasta yang disinyalir sebagai pokok permasalahan sekaligus penimbul keresahan penduduk setempat. Perusahaan tersebut ialah PT. Indo Multi Niaga (IMN); salah satu perusahaan tambang emas milik swasta yang di danai oleh Investor asing. Menurut dia (Ngadeni,red) keberadaan PT. IMN sangat meresahkan masyarakat sekitar, khususnya warga Dusun Ringinagung, dimana tempat ia (Ngadeni,red) tinggal. Dusun Ringinagung sendiri lokasinya tepat dibawah gunung tumpang pitu, dimana kebanyakan masyarakatnya yang mata pencahariannya mengandalkan pada potensi pertanian dan ternak sapi. Tak ayal memang, jika kegiatan penambangan tersebut dilaksanakan, maka masyarakat yang awal kali terkena dampak limbahnya (tailling) ialah masyarakat dusun tersebut. Secara signifikan pihak IMN sama sekali belum pernah melakukan sosialisasi terkait eksplorasinya terhadap masyarakat setempat

Mengenai tidak adanya sosialisasi penambangan oleh IMN, juga, dibenarkan oleh Susongko (Kades, Pesanggaran). Menurutnya, langkah sosialisasi yang dilakukan PT. IMN sejak awal sudah keliru. Sosialisasi tersebut dilakukannya hanya pada pemerintahan Daerah, tidak diadakan ditingkat bawah (pedesaan,red). Jadi, informasi mengenai dampak lingkungan (AMDAL) sampai saat ini belum sampai pada masyarakat, hanya terkonsumsi oleh kalangan birokrasi tertentu. Berdasarkan sumber data yang diterima oleh Partisipasi, eksekutif yang diwakili oleh Bupati Ratna Ani Lestari, sangat tidak transparan dalam menyampaikan rencana pengembangan perekonomian rakyat disekitar Tumpang Pitu. Yang ada hanyalah sosialisasi yang melibatkan sedikit orang dan isinya diarahkan untuk mendukung rencana kerja PT. IMN. Sehingga dinilai rencana penambangan emas tersebut hanya berpentingan pada kaum elite (pengusaha) dan bukan berdasar pada kebutuhan peningkatan perkembangan perekonomian secara berkelanjutan, pertimbangan tersebut diambil karena belum adanya kajian yang matang terhadap analisis dampak lingkungannya (AMDAL) dengan melibatkan para pihak sebagai pemangku kepentingan (penerima dampak secara langsung) ketika tumpang pitu nantinya jadi ditambang. Kebanyakan masyarakat  sudah tahu akan indikasi-indikasi kepentingan politik tersebut, sehingga banyak yang menyatakan penolakannya terhadap upaya penambangan di wilayahnya.”memang sebelumnya tidak ada proses sosialisasi oleh PT IMN terkait eksplorasi penambangannya, sehingga banyak informasi-informasi miring yang diterima oleh masyarakat yang sifatnya setengah-setengah, sehingga mengakibatkan masyarakat disini menjadi ketakutan akan dampak keberlanjutannya nanti” ujar Sungkono pada Partisipasi.

Rencana penambangan juga disinyalir akan mengancam air sungai yang mengalir diwilayah tersebut. Karena dalam operasinya nanti IMN akan menggunakan sedikitnya 2.066 m3 liter air per-hari, air tersebut diambil dari aliran sungai Kalibaru yang mengalir ke sungai Gonggo, dimana masyarakat Ringinagung memanfaatkan air tersebut (sungai Gonggo) yang setiap harinya sebagai tempat pengairan sawah, tempat minuman sapi ternak, tempat mencuci pakaian, dan sekaligus sebagai tempat mandi penduduk sekitar. Hal ini diungkapkan oleh Ngadeni (warga Ringinagung), ” saya sangat menyesal sekali atas keputusan Pemerintah Daerah yang memberi izin eksplorasi penambangan emas oleh PT. IMN, padahal sampai saat ini pihak IMN belum pernah melakukan sosialisasi terhadap masyarakat mengenai upaya penambangan tersebut” ujar Ngadeni, dengan wajah penuh kesal. ”Apalagi rencananya nanti proses penambangan itu akan mengunakan air yang terdapat di sungai Kalibaru, padahal sungai tersebut mengaliri sungai gonggo yang ada diwilayah saya, yang setiap harinya dibuat untuk kepentingan masyarakat sekitar, diantaranya sebagai tempat pengairan sawah oleh para petani, yang setiap musim keringnya (MK II) banyak lahan persawahan yang tanamannya kebakar (daunnya kekuningan,red) sehingga tidak sedikit warga yang saling berebut air tersebut untuk mengairi persawahan mereka. Disamping itu rencana pembuangan limbah (tailling) hasil tambang, juga akan dibuang ke-sungai gonggo, perlu diketahui juga bahwa sungai tersebut selain dibuat sebagai irigasi persawahan juga dibuat untuk minum ternak sapi, dibuat untuk mencuci pakaian sekaligus sebagai mandi warga saya, terus jika memang hal tersebut (penambangan,red) dilaksanakan, maka, bagaimana nasib penduduk saya nanti. Jadi saya mohon rencana penambangan di tumpang pitu itu jangan sampai terlaksana.” tambah ketua kelompok tani Sido Makmur ini, yang sekaligus menjabat sebagai ketua Rukun Tetangga (RT) Desa Ringinagung.

Menanggapi, berbagai pemaparan yang dilontarkan warga Pesanggaran tersebut, Nursyahbani terlihat sangat tersentuh dan menyatakan keprihatinannya atas keadaan sosial masyarakat wilayah eksplorasi penambangan emas di tumpang pitu, sehingga dalam pemaparannya, anggota DPR-RI ini menyarankan warga sekitar untuk melakukan secara langsung Hearing ke DPR-RI tepatnya pada komisi empat (kehutanan), komisi tiga (Hukum, HAM, Keamanan), komisi tujuh (pertambangan).”saya sangat prihatin sekali dengan kondisi masyarakat Banyuwangi khusunya masyarakat desa hutan (MDH) Pesanggaran, ternyata dibalik keharmonisan masyarakatnya tersebut terdapat masalah yang sangat mencekam. Jangan sampai kejadian yang menimpa masyarakat Papua (penambangan emas atas PT. Freepot) bakal terulang lagi dibumi Banyuwangi. Karena yang saya ketahui hasil dari penambangan yang ada di Papua (PT. Freepot), semua dibawa ke Amerika Serikat. Tetapi atas perjuangan masyarakat papua tersebut akhirnya mereka mendapat kopensasi sebesar 1% dari penghasilan penambangan. Seharusnya kebijakan yang di ambil oleh Pemerintahan Daerah Banyuwangi lebih bijaksana dan lebih berpihak pada kepentingan masyarakatnya, bukannya pada kepentingan para pengusaha besar. Mereka berhak atas terjaminnya kehidupan ekonomi-sosialnya,” tutur mantan ketua prosedium Wahana Lingkungan (WALHI) ini.

Akhirnya keprihatinannya tersebut, mengajak komisi III DPR-RI ini untuk ikut membantu menyelesaikan masalah tersebut dengan menyatakan kesanggupannya mendapingi masyarakat wilayah penambangan untuk dapat hearing ke DPR-RI pusat.

Disamping itu, Susongko (Kades, Pesanggaran) mengatakan, bahwa upaya untuk pengembangan ekonomi rakyat bukan hanya pada penambangan ditumpang pitu, justru lebih ditekankan pada pengoptimalan potensi-potensi lokal yang sudah ada di masyarakat.”sebenarnya jika kita ngomong peningkatan perekonomian masyarakat, bukan harus pada penambangan di tumpang pitu, justru lebih di optimalkan pada potensi lokal yang sudah ada sekarang, semisal dengan mengolah pertanian, perikanan  dan industri kecil lokal (UKM) lainnya dengan baik. Karena jika penambangan dilakukan akan mengancam keberadaan tambak para nelayan apa jadinya nanti jika tambak – tambak tersebut tercemar oleh limbah tambang, imbasnya bukan pada daerah sini saja tetapi pada luar daerah. Dan sebelum penambangan ini dilaksanakan seharusnya bisa melihat jangka panjangnya lima atau enam tahun kedepan”.cetusnya, pada partisipasi. Hal senada juga diungkapkan oleh Edhi Sudjiman (koorda ICDHRE-Banyuwangi), mengatakan, bahwa apa yang menjadi kebijakan pemerintahan daerah tersebut sangatlah dangkal, yang hanya melihat dari sisi fiskalnya saja tanpa melihat arus perkembangan sosial-ekonomi masyarakat yang secara berkelanjutan, ”menurut  saya, potensi (biji emas, red) yang terkandung di tumpang pitu itu merupakan harta karun bagi kota banyuwangi yang seharusnya dilindungi bukan untuk dieksploitasi untuk kepentingan para pengusaha, harta karun tersebut jangan sampai dikeluarkan selagi masyarakat Banyuwangi masih mampu menghidupi perekonomian mereka dengan mengandalkan potensi-potensi ekonomi yang sudah ada sekarang”. Katanya, pada Partisipasi.

Pendulang Rezeki, di Sungai Sungklon Pulau Merah

Aksi penambangan emas oleh masyarakat Pesanggaran disungai Sungklon pulau merah, tepatnya sebelah Barat gunung tumpang pitu, seakan menjadi berkah tersendiri bagi mereka. Sungai yang disebut-sebut oleh warga dengan nama sungai Sungklon berada di hutan lindung tumpang pitu. Sungai tersebut mengalir pada muara pantai Pulau Merah Pesanggaran. Sekitar 100 M dari bibir pantai Pulau Merah, terlihat beberapa warga sedang serius mendulang emas. Berdasarkan pantauan kami (Partisipasi), masyarakat melaksanakan aktifitasnya dimulai sejak pagi sekitar pukul 07.00 wib, dan selesai setelah mereka merasa lelah. Dengan   memakai alat seadanya mereka rela berendam air lumpur selama berjam-jam. Para pendulang mengaku sudah banyak yang mendapatkan emas dan hasilnya langsung dijual di toko perhiasan yang ada di Pesanggaran. Saat ditanya soal berapa banyak (gram) yang mereka peroleh selama mendulang, rata-rata mereka tidak tahu berapa banyak (gram) yang mereka hasilkan, dalam menghasilkan emas tersebut mereka tidak menunggu sampai lama, jika mereka beruntung dalam lima menit mereka sudah bisa memperoleh biji emas tersebut dan jika diuangkan mereka memperolah sekitar empat ratus ribu hingga tujuh ratus ribu perharinya. “para pendulang disini mendapatkan hasil (emas,red) tidak lama-lama amat, tidak lebih dari satu jam mereka sudah mendapatkan hasilnya, bahkan ada yang baru beberapa menit saja sudah ada yang mendapatkan logam mulia tersebut, jika hasil itu dijual, ya…! kurang lebih sekitar 400 ribu hingga 700 ribu perharinya.“ ujar, salah seorang pendulang emas.

Tetapi, dalam aktifitasnya itu masyarakat mengaku masih belum nyaman, karena merasa terintimidasi oleh aparat kepolisian yang setiap harinya terus memantau lokasi penambangan tersebut. Pasalnya, sempat terjadi insiden kejar-kejaran antara aparat kepolisian dengan salah seorang warga yang pada waktu itu lagi mendulang emas di sungai tersebut. Hal tersebut dipaparkan oleh Muji, warga Dusun Pulau Merah, mengatakan. “Kemarin memang sempat ada insiden kejar-kejaran antara pihak kepolisian dengan salah seorang warga pendulang emas, motifnya saya juga belum paham, dalam insiden tersebut sempat terdengar letusan tembakan sampai dua kali, “ ujarnya, pada pada Partisipasi.  Menanggapi hal tersebut Muji juga memaparkan “ jika penambangan ini dihentikan, penambangan yang dilakukan oleh PT. IMN juga harus dihentikan, masak! warganya sendiri tidak diperbolehkan mendulang, justru, Investor asing malah diperbolehkan untuk menambang“ tambahnya sekaligus mengakhiri perbincangan dengan Partisipasi.

Kekuatan demokrasi dengan mudahnya dipatahkan oleh kekuatan para pelaku elite politik, sehingga arti sebuah kemerdekaan yang paling  hakiki yaitu hak asasi manusia (HAM),  patut untuk dipertanyakan kembali. (sihin).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: